Angin malam menjelang pagi berhembus lembut, mengantar aroma rumput basah yang menyelusup dari taman belakang rumah Lynx. Udara terasa dingin namun menenangkan, seolah alam pun tengah menghembuskan napas lega setelah hari yang penuh ketegangan. Di teras rumah yang sederhana namun kokoh itu, beberapa sosok duduk melingkar dalam keheningan yang nyaman, di atas kursi kayu panjang yang terlihat sederhana. Cahaya lilin yang redup menyinari wajah-wajah yang lelah, namun terselip ketenangan dan rasa syukur yang tak terucapkan.

Leena duduk di sisi kanan Lynx, bersandar lembut di kursinya. Ia menggenggam cangkir teh hangat yang masih utuh, uapnya mengepul perlahan, namun bibirnya belum menyentuhnya. Di sisi satunya, Han Tiansheng dan Xue Yuning, dua sosok berwibawa dari Sekte Pedang Es, duduk berdampingan. Mereka baru saja memulihkan sebagian kecil dari energi mereka yang terkuras. Wajah mereka masih pucat, namun tak lagi tegang seperti sebelumnya. Tak jauh dari sana, Tetua Raka dan tokoh-tokoh penting lainnya seperti Arkha, Kael, serta Narendra bergabung dalam lingkaran kecil itu, menyandarkan tubuh pada sandaran kayu dan menghela napas lega setelah perjuangan panjang menyelamatkan para penduduk.

Lynx mengedarkan pandangannya perlahan. Tatapannya menelusuri satu per satu wajah yang diterangi kilau lembut cahaya lilin, lalu berhenti dengan sorot tajam ke arah dua leluhur Sekte Pedang Es.

"Aku benar-benar ingin mengucapkan terima kasih," ucapnya, suaranya dalam, tenang, namun terasa berat seolah membawa segunung beban. "Tanpa kehadiran kalian, mungkin tak satu pun dari penduduk itu bisa bertahan malam ini. Aku... mewakili seluruh suku Surya, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya."

Han Tiansheng tersenyum samar, matanya menunjukkan ketulusan. "Kami hanya membalas budi, Tuan Xiao. Sekte kami sudah di ambang kehancuran. Tanpa pertolonganmu, sekte kami hanya tinggal nama."

Xue Yuning menambahkan dengan suara yang lembut namun penuh penghormatan. "Kekuatanmu, Tuan Xiao, membuka mata kami. Bahkan pencipta teknik Eternal Stasis Casket tidak akan mampu menggunakannya seefisien dan sehebat itu. Kau bukan hanya menyelamatkan sekte kami, tapi juga menunjukkan pada kami potensi sebenarnya dari teknik itu. Kami berterima kasih... karena telah memperlihatkan jalan yang belum pernah kami bayangkan. Tetapi tuan Xiao, apa yang terjadi sebenarnya? kami belum pernah kejadian seperti itu. Apalagi ribuan orang mengalaminya. Apakah mereka terkena wabah penyakit tidak dikenal?"

Lynx berkata sambil tersenyum penuh rasa syukur, "Leluhur, mereka semua terkena racun yang tidak di kenal. Kami memerlukan tambahan waktu untuk mempelajari cara menyelamatkan mereka. Berkat kalian, kami punya kesempatan untuk menolong mereka."

"Racun?" Xue Yuning dan Han Tiansheng saling berpandangan namun tidak berkomentar. Mereka sendiri belum pernah melihat atau mendengar gejala seperti yang mereka lihat. Selain itu mereka masih menyimpan rasa penasaran dengan benda-benda asing yang mereka lihat di dalam bangunan tersebut.

Senyuman samar muncul di bibir Lynx. Ia meneguk minumannya perlahan, lalu memejamkan mata sejenak. Namun pikirannya belum tenang. Ingatannya melayang pada kejadian penyerangan brutal terhadap Sekte Pedang Es. Ia membuka matanya perlahan, lalu menatap kedua leluhur itu dengan tatapan yang lebih dalam dan penuh tanya.

"Leluhur... maaf bila aku menanyakan sesuatu yang mungkin tidak pantas. Tapi satu hal terus menghantuiku. Mengapa sekian banyak sekte memilih menyerang Sekte Pedang Es? Bahkan sepuluh kultivator ranah Immortal ikut turun tangan, dan menyerang langsung tanpa banyak kata. Apa benar hanya karena dendam... atau karena teknik Eternal Stasis Casket yang mereka inginkan? Ataukah ada hal lain diluar itu?"

Keheningan menyelimuti teras dalam sekejap. Angin yang semula lembut kini seperti berhenti berhembus. Hening, tajam, menggantung seperti pisau di udara.

Para tetua Suku Surya saling berpandangan, wajah-wajah mereka menunjukkan kebingungan dan rasa ingin tahu yang mendalam. Mereka tidak memahami apa yang telah terjadi di Sekte yang sedang di bicarakan, namun mereka tahu, jika Lynx bertanya dengan nada seperti itu, maka jawabannya pasti menyimpan sesuatu yang besar. Arkha menegakkan tubuhnya, Kael mengerutkan dahi, dan Narendra menatap para leluhur dengan mata penuh harap.

Leena diam, tapi matanya tak beralih dari wajah Lynx. Ia juga sudah membaca sesuatu hal yang ganjil dari penyerangan tersebut. Sesuatu yang lebih besar dari sekedar balas dendam ataupun merebut sebuah teknik. Tidak mungkin para Leluhur sekte bersedia turun tangan langsung tanpa imbal hasil yang sesuai dengan mereka.

Han Tiansheng dan Xue Yuning saling menatap. Tak ada kata yang keluar, hanya isyarat mata yang dalam, seperti mencoba menyelami satu sama lain sebelum memutuskan apakah rahasia ini patut dibagikan.

Lynx mengangguk pelan, lalu berkata dengan nada yang datar namun penuh pengertian, "Sekte Pedang Es pasti memiliki rahasia yang tidak perlu diketahui oleh orang luar seperti kami. Tidak perlu diceritakan jika itu sebuah rahasia yang tidak boleh di ungkapkan."

Namun Han Tiansheng buru-buru menggeleng. "Tidak... Tuan Xiao. Kau adalah penyelamat kami. Bahkan mungkin satu-satunya harapan kami bila sesuatu terjadi di masa depan. Kami hanya ragu karena tak memiliki bukti kuat, hanya kecurigaan."

Xue Yuning menarik napas dalam dan mengangguk, suaranya lirih namun tegas. "Kau memang tajam, Tuan Xiao. Kami pun belum selesai memikirkannya. Rasanya ada sesuatu yang jauh lebih besar tersembunyi di balik serangan itu. Kami pun ingin menyelidikinya ketika kembali ke sekte."

Ia terdiam sesaat, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam. "Ada satu hal... sesuatu yang belum pernah kami ungkapkan pada siapapun. Bahkan tetua sekte kami tidak mengetahui sepenuhnya. Tapi jika kau ingin tahu, maka kau layak mendengarnya. Mungkin saja... ada petunjuk yang selama ini kami lewatkan."

Seluruh perhatian kini tertuju pada Xue Yuning. Bahkan nyala lilin seolah diam, menunggu.

"Banyak berita beredar, di dalam wilayah terdalam Sekte Pedang Es... terdapat sebuah jalur rahasia. Tertutup es sepanjang tahun. Tidak ada yang tahu persis di mana letaknya. Tapi menurut legenda kuno yang diturunkan dari generasi ke generasi, jalur itu adalah gerbang menuju Dunia Surgawi. Sebuah tempat yang diyakini dihuni oleh makhluk yang telah melampaui ranah Immortal. Mereka disebut para Dewa. Dan konon... hanya mereka yang berada di puncak ranah Immortal yang bisa memasuki jalur tersebut."

"Dewa...?"

Suara kecil itu terucap entah dari siapa. Seperti gema, ketakjuban dan ketakutan bercampur jadi satu. Bagi para penduduk Surya, dunia kultivasi masih asing. Setelah dibebaskan dari para penyihir, mereka lebih banyak tinggal di desa dan menjalani kehidupan biasa tanpa berinteraksi dengan penduduk asli. Mereka mengenal kekuatan, tetapi hanya dari Lynx, Leena dan beberapa orang yang ada di sekitarnya. Lynx dan Leena adalah lambang keperkasaan yang mereka sembah dalam diam. Mendengar kata ‘Dewa’ diucapkan oleh tamu agung mereka membuat seluruh isi teras bergidik.

Apakah ada kekuatan yang melebihi kepala suku mereka?

Leena menoleh tajam ke arah Lynx, matanya membelalak, namun wajahnya tetap tenang. Lynx menatap balik, dan dalam sekejap, mereka saling memahami. Dunia Surgawi bukanlah mitos bagi mereka. Itu nyata. Sebuah realitas yang selama ini dirahasiakan dari dunia luar, sebuah keberadaan yang memiliki tingkat kekuatan jauh diatas dunia yang mereka tempati saat ini.

Narendra bergumam pelan. "Dunia Surgawi... Apakah itu dimensi lain? Seperti dunia kecil?"

Kael dan Arkha saling menatap bingung. Dalam seluruh pengumpulan informasi mereka selama ini, istilah Dunia Surgawi tidak pernah mereka dengar, apalagi ranah yang melampaui Immortal.

Han Tiansheng menggeleng perlahan. "Kami juga tidak banyak mengetahui tentang dunia Surgawi. Kami menganggap itu hanya sebatas cerita. Sudah ratusan tahun kami berada di sana, tidak ada satu pun yang menemukan hal aneh di sekte kami yang berhubungan dengan Dunia Surgawi. Belum pernah penjaga sekte menemukan fluktuasi energi, atau tanda-tanda mencurigakan yang menyentuh formasi kami."

Leena bertanya, suaranya tajam, "Kalau begitu, dari mana asal cerita itu? Tidak mungkin dongeng bisa bertahan ratusan tahun tanpa alasan, bukan?"

Han Tiansheng mengangguk, seolah menyadari hal itu juga. "Pedang Iblis... kalau kalian pernah dengar. Konon katanya berasal dari jalur itu juga. Tapi tidak ada yang pernah membuktikannya. Semua hanya dongeng dari generasi ke generasi."

Lynx mengerutkan kening, tatapannya menajam. "Jadi... apa mungkin mereka menyerang kalian bukan karena teknik Eternal Stasis Casket... tapi karena mereka ingin membuka jalur itu?"

Xue Yuning menjawab, nadanya berat, "Itulah dugaan terkuat kami. Beberapa mata-mata yang kami tangkap beberapa minggu yang lalu mencoba menyusup dan memaksa para murid kami mengungkap keberadaan jalur itu. Mereka yakin kami menyembunyikannya untuk diri sendiri."

Han Tiansheng menarik napas panjang. "Kami selalu menganggapnya sebagai rumor. Jika memang Dunia Surgawi nyata dan penuh dengan teknik di atas ranah Immortal, mereka seharusnya sudah turun menaklukkan dunia ini. Tapi... selama ini tak ada tanda-tanda mereka."

Han Tiansheng menyilangkan tangan, suaranya terdengar seperti mencoba meyakinkan dirinya sendiri, "Mungkin mereka semua tertipu oleh kabar palsu. Mungkin itu hanya khayalan para leluhur yang tak terbukti. Tapi…"

Ia berhenti, menatap Lynx dengan dalam.

"…jika benar Dunia Surgawi itu nyata, dan portal itu masih tersembunyi di dalam sekte kami… maka mungkin serangan mereka hanyalah awal dan dapat lebih mengerikan lagi daripada yang bisa kami bayangkan."

Keheningan kembali turun. Nyala lilin bergetar pelan, menari dalam bayang-bayang ketakutan dan kemungkinan.

Lynx bersandar ke belakang. Tatapannya menembus langit malam, mengamati bintang-bintang yang terasa begitu jauh namun juga begitu dekat. Dalam lubuk hatinya, ia tahu. Jika jalur itu benar ada, maka ia harus dihancurkan. Dunia ini belum siap untuk kegilaan yang akan muncul dari baliknya.

